. CAMPUR CAMPUR: Puisi
..:: TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG, JANGAN LUPA KOMENTARNYA YA...ATAU TINGGALKAN JEJAK DI BUKU TAMU ::..
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

04 Februari, 2010

Mendengar Melihat Didengar Dilihat


Aku bicara karena aku mendengar dan melihat
Aku diam karena aku mendengar dan melihat
Aku senyum karena aku mendengar dan melihat
Aku menangis karena aku mendengar dan melihat
Aku senang karena aku mendengar dan melihat
Aku kesal karena aku mendengar dan melihat
Aku tahu karena aku mendengar dan melihat
Aku tidak tahu karena aku mendengar dan melihat
Aku berdiri karena aku mendengar dan melihat
Aku duduk karena aku mendengar dan melihat
Aku tenang karena aku mendengar dan melihat
Aku gelisah karena aku mendengar dan melihat

Aku bicara karena ingin didengar dan dilihat
Aku tertawa karena ingin didengar dan dilihat
Aku kecewa karena ingin didengar dan dilihat
Aku teriak karena ingin didengar dan dilihat
Aku marah karena ingin didengar dan dilihat
Aku bergurau karena ingin didengar dan dilihat
Aku menulis karena ingin didengar dan dilihat


img Source
lanjuut...

Inilah Aku Sekarang



Mungkin selama ini tenaga yang aku peras belum cukup banyak
Atau mungkin aku terlalu terbuai dengan yang selama ini didapat
Karena mulai esok, keringatku dituntut untuk lebih deras lagi mengalir
Berjalan di dunia yang sesungguhnya
Dunia yang selama ini hanya ada dalam ketakutanku
Takut bukan untuk menghadapai, tapi takut karena malas
Malas dengan rentang jarak yang terlampau…
Malas dengan hiruk pikuk duniawi yang mereka katakan
Malas dengan sosial grade yang tinggi… L
Karena disana
Di dunia sana
Beragam jiwa menyatu berbaur
Berjuta keyakinan dalam satu atap
Bertingkat golongan saling mengejar posisi tertinggi
Tak peduli kawan, tak peduli saudara yang ada hanya nafsu diri
Kuasa yang berkilau lebih indah dari intan permata
Tapi sebenarnya lebih berat dari gunung bahkan jagat raya

Aku benar-benar takut
Takut akan lebur dalam permainan mereka
Larut dalam hingar kuasa yang ingin dicapai

Namun apa daya secuil titik yang terlukis diatas kanvas
Titik yang setiap orang bisa merubahnya
Entah itu menjadi gambar, menjadi tulisan ataupun dihapus
Bukan aku tidak punya pendirian
Bukan aku goyah
Tapi karena posisiku berada dicelah jurang
Di kanan jurang berduri, di kiri jurang api
Berjalan terus kedepan sulit kembali pun tak bisa…
Inilah aku sekarang… L

lanjuut...

15 Januari, 2010

Aku Bersyukur Mempunyai Seorang Istri

Aku sangat bersyukur mempunyai seorang istri

Disaat aku malu untuk berdakwah pada orang lain, ia sanggup untuk menerima kedangkalan iman ini

Dengan kehadirannya, aku semakin yakin bahwa Allah semakin sayang pada kami dengan lebih cepatnya Allah mengabulkan doa kami

Dengan doanya, maka Allah mengalirkan begitu banyak rezeki kepada kami

Nafsu duniawi yang tadinya menggebu-gebu bagai ombak yang tak kenal lelah kini lebih terkontrol dengan sikapnya yang menerima segala rezeki yang aku dapatkan

Istriku, dia adalah ladang amal bagi ku yang tadinya hanya memikirkan kepuasan diri sendiri dalam mencari dunia kini terkikis dan sadar bahwa ada orang lain yang membutuhkan

Aku bersyukur mempunyai seorang istri, karena ketika aku salah akan ada yang mengarahkanku kembali kejalan yang benar

Aku bersyukur mempunyai seorang istri, karena dialah yang telah menjaga kehormatanku sebagai kepala keluarga dengan tidak mengundang lelaki lain ketika aku tidak ada tanpa izin

Aku bersyukur dengan hati lembutnya yang begitu lembut namun mampu menghancurkan kerasnya hati ini dengan diamnya…

Aku bersyukur mempunyai seorang istri yang dengan air matanya dapat meluluhkan amarah jiwa ini

Aku bersyukur mempunyai seorang istri yang siap mengingatkanku jika aku terlalu dekat dengan wanita lain yang bukan muhrim dengan cemburu cintanya sehingga aku menjadi sadar bahwa mungkin aku terlalu dekat dengan wanita lain dan ini menjadikanku sadar untuk menjaga agar tangan ini tidak menyentuh wanita lain selain muhrim dan menjaga pandangan ini dari semua wanita… itu demi istriku walaupun dia tidak tahu apa yang aku lakukan, aku yakin Allah Maha Tahu apa yang aku lakukan…ini menambah keimananku pada Allah…dan cintaku pada istri

Aku bersyukur mempunyai seorang istri karenanya lah aku mempunyai keberanian untuk Adzan dengan melahirkan anak kami sehingga aku kumandangkan Adzan pertamaku di kupingnya…

Aku bersyukur mempunyai seorang istri yang sangat mencintai anaknya, anakku, anak kami berdua dengan mencurahkan segala perhatiannya pada sang Bintang Cantik Yang Unggul

Aku bersyukur mempunyai seorang istri yang karenanya aku bisa bersyukur…
lanjuut...

14 Januari, 2010

Cerita Diantara Celah...



Merangkai kata diantara celah batu sunyi yang menghimpit tubuh ini aku ingin bercerita pada dunia khayal ini bahwa aku sedang berusaha untuk membunuhnya. Dia yang selalu mengikutiku melangkah, menjadi bayangan kedua diantara bayangan lainnya karena dia adalah musuh ku.

Menyelinap-mengendap diantara kuku jari ini disaat panas membakar kulit, tak hentinya berkata seharum bunga pada jalan sesat. Aku tetap tidak akan terbujuk karena aku telah memegang sebuah gergaji untuk memotongmu, membelahmu menjadi dua bagian walaupun kau berteriak…arrrrgggghhh….aku tetap tidak akan peduli padamu.

Kejamkah aku…?

Tidak, aku tidak kejam…

Aku rasa itu sudah pantas aku lakukan padanya, ia selalu mengencingi telingaku disaat fajar menyingsing dan diwaktu-waktu lainnya sehingga aku tidak sempat untuk mendengar panggilan menuju kemenangan.
Dia berdalih agar aku tetap mengikutinya melangkah dijalan indah penuh kesenangan dunia, dia ingin menjadi temanku dalam dusta, dalam gibah dan Namimah mencaci, memaki, memfitnah segala hal yang lewat didepan mata.

Kini aku berusaha untuk mencekik lehernya yang penuh dengan kebohongan itu dengan tali-Nya dan bersujud pada tuhanku agar badanmu terasa panas dingin, ingin rasanya segera kubelah tubuh itu dengan gergaji yang ku genggam ini, namun semua belum bisa aku lakukan sekarang karena 70.000 anakmu akan menyerangku dalam sekejap mata, menikam dari atas bawah kiri kanan bahkan dari dalam tubuh ini…apa yang harus kulakukan untuk lepas darinya…?

Aku yang tadinya diatas angin kini berbalik menjadi tersungkur didepannya…dia berdiri menatapku tajam dengan mata yang cacat sebelah dan tertawa terbahak….terlihat semakin jelas taringnya yang mirip taring babi mencuat keluar….haus akan darah dari kami yang masih goyah.

Aku semakin bingung kemana aku harus lari atau aku bunuh saja semua…? Padahal mereka ditangguhkan mautnya sampai akhir zaman…apa yang harus ku lakukan…?

Satu persatu senjataku hilang, bahkan kuda yang kutunggangi untuk meremukkan tulang punggungnya kini telah pergi…aku semakin terpojok dicelah batu diantara bukit gelap

Dia memberikan pilihan padaku untuk mengikutinya atau tetap menjadi musuhnya….

Jika aku ikut dengannya, maka segala cahaya ini akan redup berbaur dengan gelimang nikmat dunia tapi jika aku memilih untuk menjadi musuhnya maka ia akan lebih menusuk hati ini dan mengalir di setiap urat syaraf melalui darah hitam…akupun memilih diam…

Samar-samar aku mendengar lantun merdu Kalamullah, nyaring lembut meresap dalam kalbu, tiba-tiba mereka semua meleleh dan mencair bagai tersiram timah panas, tak ada yang tersisa..aku kaget dan gembira ternyata lantunan itu datang dari belahan jiwaku yang sedang bersimpuh dihadapan-Nya melantunkan Kitabullah dan menolongku menggapai cahaya kembali…terbebas dari selimut kelam yang di sadurkan oleh setan…mereka adalah Iblis Laknatullah…

Terimakasih Permataku…

Terimakasih Bintangku…

Aku mencintaimu…


NB : Bacalah artikelKisah Syaitan Bertemu Dengan Rasulullah SAW


lanjuut...

05 Januari, 2010

Mata Sinis Itu Menyalak...


Setiap langkah selalu mengundang mata orang lain untuk melirik tajam
Walaupun sajadah sudah dihamparkan diatas pasir putih
Gerak sujud telah dilaksanakan
Salam sudah diucapkan
Namun kerinduan tetap bergelora…
Inikah rasanya merinduMu
Inikah rasanya mencintaMu
Aku takut…takut akan tatapan mata mereka
Mereka menganggapku diluar batas
Tidak berbaur dan tidak lebur dengan mereka
Mata sinis ada dimana-mana, mengadili tanpa menilai
Padahal hanya ingin menghindari gibah
Padahal tidak ingin memakan bangkai saudara sendiri kelak
Tapi tetap saja mereka tidak mengerti
Seakan bangki-bangkai itu adalah sebuah kue yang diperebutkan
Didebat, disangkal, memfitnah, mencerca
Tidakkah mereka tahu itu semua
Padahal diantara mereka adalah imam-imam kami di umat
Beberapa dari mereka adalah imam bagi jiwa yang lain
Aku tidak mengerti
Aku yang salah memvonis mereka gibah
Atau memang mereka benar-benar sedang memakan bangkai itu
Aku hanya ingin menghindari itu semua
Dengan termenung
Dengan menyendiri
Dengan buah hati dan separuh jiwaku
Dalam damai hidup kami
dalam suasana hening
Damai
Semoga mereka mengerti keterbatasan kami…
Inilah hidup kami yang menghindari dosa
Aku…
Harap…




lanjuut...

23 Desember, 2009

Aku Malu Pada...




Malu aku…
Ditengah kerumunan serangga kecil..
Mereka menari gembira lantunkan nyanyian malam
Bergerak seiring langkah kegelapan menyapa alam
Berpendar terkena lembayung
Tapi mereka tetap riang sahut menyahut
Menggetarkan kesunyian melantunkan nama Nya
Aku sendiri, hanya meluruskan punggung dihangatnya suasana
Mata yang sayu melepas lelah
Pikiran melayang berhayal
Pantaskah aku disebut Umat Mu
Aku yang hampir terpejam ini mengharap surga Mu
Pantaskah aku mendapatkannya
Padahal diluar sana
Berbaris rapi dalam shaf-shaf menghadapMu
Berjejer bagai pagar iman, berbaris bagai rumput hijau…anggun..indah
Tapi mengapa aku tetap berkeras dengan berteman syaitan
Aku tak kuasa melawannya…aku lemah iman…aku lemah ilmu
Tapi aku keras hati…keras kepala…keras nafsu

Mungkin hidayah itu sudah aku raih
Mungkin petunjuk itu sudah terbentang
Mungkin jalan itu sudah melebar
Tapi karena kerasnya hati ini, kepala ini, ego ini
Sedikit pun aku tidak merasakannya
Sedikit pun aku tidak menciumnya
Sedikitpun aku tidak mendengarnya
Allahuakbar…Allahuakbar….
Aku takut Kau menjauhiku
Aku takut Kau memarahiku
Aku takut padaMu tapi aku rindu jalanMu
Jalan yang sekian lama ini terlihat usang karena tak pernah kuinjak
Padahal kerikil itu hanya cobaan dariMu
Kaca yang berserakan adalah ujian dariMu
Rumput-rumput harus segera dipangkas
Batu-batu harus segera dihancurkan
Agar tidak semakin gelap jalan ini

Berilah kemudahan bagi hambaMu ini..
Untuk menapaki setiap jengkal jalan itu
Berilah keberanian hati ini…
Untuk singkirkan semua batu dijalanMu
Aku…
Harap…
lanjuut...

01 Desember, 2009

Harapan ku...


terulang kembali..terulang kembali...
selalu terulang kembali...
padahal aku sudah bertekad untuk melepasnya
padahal aku sudah berjuang untuk membuangnya
betapa keras hati ini
ingin sekali aku mengeluarkannya dan menghancurkannya
sebenarnya apa yang terjadi pada diri ini
hari ini aku menangis menyesal akan dosa ini
esok hari aku ulangi berbuat dosa

ingin sekali menjejakkan kaki di tanah Mu
ingin sekali berputar di halaman Rumah Mu
ingin sekali meneguk setetes air di Sumur Mu
tapi hanya dengan melihat mereka yang telah sampai di Tanah Mu
aku semakin pesimis...
aku semakin ragu...
adakah jalan yang akan mengantarku pada Mu
padahal lumpur ini terlalu pekat menempel di muka ku
masihkah pantas aku mengharapkannya...
disaat tangan ini masih tetap bergandengan dengan tangan iblis

tapi aku harus kuat
kuat dalam keinginan dan niat
tidak ada kata terlambat sebelum ajal di tenggorokan
aku ingin sekali berteriak dengan sekerasnya
berteriak dengan riang...Labbaik Allahuma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik.
Innal hamda wanni'mata laka wal mulk,
la syarika laka labbaik...

Allah berilah hambamu ini jalan menuju Bait Mu
mudahkanlah langkah hambamu ini melaksanakan rukun ke lima Mu
yaa Rohman kuatkanlah tekad menuju jalan Mu itu
amin...
aku...
harap...
lanjuut...

23 November, 2009

Berilah Aku Petunjuk


melihat bintang, tak tertembus khayal
melihat hujan tak sanggup menampung
melihat pelangi aku tak tahan akan indahnya
sebenarnya apa yang aku cari ini ?
selembar khayal yang menjadi dusta ?
setaut koin diantara gelimang nista ?
atau mencari TANGAN yang sudah menuliskan jalan ini ?
tapi kemanakah akan kutempuh pertigaan ini ?
akankah kaki ini sampai untuk menggapai Nya
akankah Ia menerima diri ini yang telah bergumul dosa
mohon, aku mohon berilah aku setapak aliran sungai
yang akan membawaku bersimpuh dihadapanNya
dengan sauh keyakinan, dengan bahtera keimanan
mohon, aku mohon berilah aku segenggam kekuatan
hanya untuk memadamkan api nafsu dalam dada ini
aku mohon
aku...
harap...

berjuta pensil telah ku goreskan
melukis perjalanan ini
berjuta warna telah menghias
langkah-langkah ini
berjuta penghapus telah ku peras
menghapus jejak hidup ini


tapi mengapa jejak-jejak itu tetap turut
tetap ikut dalam perjalanan ini
jejak dosa, jejak sesal, jejak angkara, jejak nafsu
ahhh...aku bingung
akankah bisa ku lempar beban di kepala ini
agar bisa aku melangkah sejauh Engkau menerima tobat ini
akankah kupenggal saja leher ini sebagai persembahan pada Mu
mohon..mohon...berilah titik-titik bening Mu di hati ini
aku...
bersimpuh...

pada Mu...
menangis...
menyesal...
bertobat...
lanjuut...

12 November, 2009

kau dan kau yang kucinta

sebenarnya hanya ingin menuang madu kedalam kelopak bunga dan berharap semua akan tetap manis dalam cahaya takdir, namun sekutu tembok menghalang jalur kaki ini untuk melangkah, entah apa yang akan terjadi seakan baru sedetik lalu tetes air mata ini kering, kini harus terkuras kembali hanya karena ketidak mampuan tangan untuk cepat bertindak melawan gerigi besi si tuan zaman.
satu hal yang tetap menggelayut dalam dada ini adalah bahwa semua ini hanya fana, semua ini hanya sementara, tapi mengapa seakan-akan nyata...tapi mengapa seakan-akan memang inilah hidup. tidak perduli pada apa yang memang menggigit kaki ini untuk tidak terus maju, aku seorang yang penuh lumpur hina ini merasa seakan tidak ada campur tangan orang lain dalam semua ini...semua yang kujalani sendiri hanya aku sendiri, betapa egonya aku

kaget aku mendengar jerit nyaring di malam sunyi, memasung kesunyian kedalam histeris. segera aku menyeruak mimpi ini untuk terbangun dengan hidup nyata, terduduk dalam tangisnya mengharap kasih...memelas...merayu...
ya...dia...dia..yang selama ini aku jadikan sebagai jantung dalam diri ini agar tetap teguh memerangi jahanamnya dunia ini hanya untuk mencari secuil penegak punggung, hanya untuk mencari se-remah penyambung nyawa penawar lapar
ya...dia...dia..yang selama ini aku cari sekaang menjerit meminta kasih, meminta sayang...dan ternyata dia lah kasih ku, dia lah putri bintang ku yang cantik, dia lah anakku tersayang

tapi hati ini masih kurang kuat untuk menjalani rusaknya jalan didepan sana, hati ini masih ragu untuk tetap memutar roda jalanan ini...takut...takut...tiba-tiba terpeleset kedalam lembah hina. disaat itulah tangan lembutnya menggapai dada ini, kesabaranya dalam sulit telah menempanya menjadi super...ya, aku katakan super karena dia membuat gemuruh ombak dalam hati ini tetap berderu, bara yang hampir habis dalam kayu lapuk di hati ini pun tetap ditiup agar tidak mati juga, agar tetap ada cahaya walau sekecil bara dalam hati ini.
tangan lembutnya mampu membuat serangkai kata menjadi tamparan keras di pipi sebagai pengingat bahwa ini salah dan itu salah, tapi dengan kerasnya jari jemarinya dapat mengisi kekosongan dalam dadaku dialah istriku tercinta.

mereka lah yang telah membuat hidup ini tetap hidup, terimakasih anakku, terimakasih istriku kalianlah jiwa penggerak badan ini.
maaf jika tak ada yang dapat kulakukan untukmu, hanya meminta dan menuntut...itu yang aku bisa.

lanjuut...

29 Oktober, 2009

To My Friend



merengkuh sangat jauh
ber-angan tak tersampaikan
hari ini adalah hidup
hari lalu tinggal pandangan kabur
hari esok gelap entah...

kapan angan terjalin
ukhuwah kita rajut kembali
lewat dunia hampa kembali kita per erat
lewat angin lalu kita kembali bersapa
maaf bukan untuk menyingkap 'luka' lalu 
hanya harapan untuk tetap menjadi sahabat
sahabat tidak ada mantan
sahabat tidak ada bekas
semoga mengerti 
semoga tetap erat......


lanjuut...
 

My Best Friend

Recent Comment