. CAMPUR CAMPUR
..:: TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG, JANGAN LUPA KOMENTARNYA YA...ATAU TINGGALKAN JEJAK DI BUKU TAMU ::..

06 Januari, 2010

Apa Lagi Yang Engkau Tunggu Akhi...?




Apa lagi yang engkau tunggu akhi, dunia sedang kau kejar akhirat sedang kau raih, usia semakin matang ilmu semakin menumpuk tapi mengapa engkau belum juga menyempurnakan sunah Rasulullah SAW seperti sabda Beliau “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Berbagai sunah telah kau jalankan, usaha menggapai rezeki yang diberikan Allah SWT sedang engkau gapai, apakah engkau takut tidak akan bisa memberikan nafkah pada istrimu padahal Allah telah berfirman “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “ (An-Nuur:32).

Masih ragukah engkau terhadap firman Allah SWT yng diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yang didalamnya Allah telah menjamin bagi mereka yang menikah dengan KaruniaNya lang Maha luas ?

Kau beralasan masih takut untuk menjalaninya, belum sanggup untuk mengarunginya tidakkah kau ingat apa yang di firmankan Allah SWT “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
tak perlu lagi engkau takut akhi, karena dengan menikah maka akan menjadikanmu lebih tenang dan tentram.

Kau juga beralasan belum mandapatkan jodoh yang sesuai dengan hatimu, ingatlah “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya).Bagi mereka ampunan dan Rezeki yang melimpah (yaitu : Surga)” (Qs. An Nuur (24) : 26).

Nabi Muhammad telah mewasiatkan kepada semua umatnya dalam mencari kriteria istri, Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Jadi apalagi yang engkau tunggu ?
Dengan menikah maka engkau akan lebih terjaga, “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

Yakinkanlah hatimu akhi untuk melangkah mengarungi hidup dengan menikah sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dengan menikah maka Allah akan lebih dekat lagi dengan kita semua, banyak keunggulan bagi mereka yang menikah dalam hal beribadah diantaranya :

1. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
2. Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud).
3. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.” (HR. Baihaqi).
4. “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
5. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
6. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
7. Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

Dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan disini, takutlah akan menjadi orang yang merugi kelak, karena umur tidak ada yang tahu batasnya, bisa esok atau kini, bisa tua atau muda, janganlah engkau menunda lagi untuk menikah saudaraku se-iman dan se-agama, aku khawatir engkau akan masuk dalam golongan yang disebutkan oleh Nabi Muhammad dalam Hadist beliau : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah (HR. Bukhari). Atau “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).

Aku menyayangimu akhi, aku mencintaimu wahai saudara ku.

Fikirkanlah lebih dalam lagi, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita…amin.


untuk sahabatku...






lanjuut...

05 Januari, 2010

Link Exchange

lanjuut...

Mata Sinis Itu Menyalak...


Setiap langkah selalu mengundang mata orang lain untuk melirik tajam
Walaupun sajadah sudah dihamparkan diatas pasir putih
Gerak sujud telah dilaksanakan
Salam sudah diucapkan
Namun kerinduan tetap bergelora…
Inikah rasanya merinduMu
Inikah rasanya mencintaMu
Aku takut…takut akan tatapan mata mereka
Mereka menganggapku diluar batas
Tidak berbaur dan tidak lebur dengan mereka
Mata sinis ada dimana-mana, mengadili tanpa menilai
Padahal hanya ingin menghindari gibah
Padahal tidak ingin memakan bangkai saudara sendiri kelak
Tapi tetap saja mereka tidak mengerti
Seakan bangki-bangkai itu adalah sebuah kue yang diperebutkan
Didebat, disangkal, memfitnah, mencerca
Tidakkah mereka tahu itu semua
Padahal diantara mereka adalah imam-imam kami di umat
Beberapa dari mereka adalah imam bagi jiwa yang lain
Aku tidak mengerti
Aku yang salah memvonis mereka gibah
Atau memang mereka benar-benar sedang memakan bangkai itu
Aku hanya ingin menghindari itu semua
Dengan termenung
Dengan menyendiri
Dengan buah hati dan separuh jiwaku
Dalam damai hidup kami
dalam suasana hening
Damai
Semoga mereka mengerti keterbatasan kami…
Inilah hidup kami yang menghindari dosa
Aku…
Harap…




lanjuut...

Manfaat Biji Tomat ( Pengganti Aspirin Yang Alami )


Ada info menarik lagi niy buat sobat-sobat yang suka minum jus, terutama jus buah tomat.
Jus tomat memang sangat nikmat diminum dingin disiang hari yang panas, pasti sangat menyegarkan badan, tapi tunggu dulu…bukan Cuma akan membuat badan terasa segar dan sehat tapi jus tomat juga bisa dijadikan sebagai pengganti aspirin…itu loh obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit (analgesik).

Professor Asim Dutta-Roy dari Rowett Institute, Aberdeen lah yang telah menemukan bahwa biji dari tomat ini mengandung gel yang tidak berwarna dan tidak berasa yang diberi nama Fruitflow bisa mempertahankan sirkulasi darah dengan cara mencegah pembekuan darah. jadi dengan lancarnya peredaran darah kita maka metabolisme tubuh pun akan lebih lancar dan jika ini berlangsung terus-menerus diharapkan akan bisa memperpanjang usia seseorang.
Seperti yang kita tahu, aspirin atau asal asetilsalisilat ( asetosal ) yaitu obat yang sering digunakan terutama untuk mengurangi rasa sakit ( analgesik ), obat demam ( antipiretik ) dan obat peradangan ( anti-imflamasi ).

Aspirin juga memiliki efek anti penggumpalan sehingga sering digunakan untuk mencegah serangan jantung dengan dosis yang kecil.
Efek samping dari aspirin ini adalah darah akan menjadi sulit (lambat) membeku sehingga peredaran darah yang berlebihan dapat terjadi oleh karena itu aspirin tidak cocok untuk mereka yang akan menjalani operasi atau memiliki masalah peredaran darah. aspirin juga bisa mnimbulkan bisul pada seseorang.
Padahal setidaknya tercatat jutaan orang didunia rata-rata pada usia lanjut mengkonsumsi aspirin dalam dosis kecil.

Dengan ditemukannya Fruitflow dalam biji tomat ini maka diharapkan akan mengurangi efek buruk penggunaan aspirin selain itu biji tomat juga alami dan tidak memiliki efek samping apapun walaupun dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Dalam waktu 3 jam setelah mengkonsumsi biji tomat, aliran darahj dalam tubuh akan terlihat berjalan dengan lancar dan efek ini berlangsung selama 18 jam jadi lebih baik hal ini dilakukan secara rutin.
Jadi jika anda memasak makanan atau membuat jus menggunakan buah tomat, jangan dibuang bijinya yang sangat bermanfaat itu.
lanjuut...

Aktivitas Pertama Tahun Ini...




Alhamdulillah hari ini pertama masuk kerja…masih banyak pekerjaan tahun lalu yang belum selesai, tapi itu bukan karena saya gak mau  menyelesaikannya tapi karena system yang tidak bisa dijalankan pada akhir tahun kemarin…

Kembali bekerja, berarti kembali berhadapan dengan komputer itu artinya kembali online-online, he..he...untuk sementara soalnya saya Cuma bisa online di kantor, memanfaatkan waktu senjang ketika pekerjaan sedang tidak ada.

Kembali lagi ke aktivitas blogging yang sudah sekitar 11 hari saya tinggalkan karena berlibur kerumah ortu di kampung yang masih terbatas dalam koneksi internetnya, ternyata kangen juga ya…banyak komentar dari sobat-sobat yang belum bisa saya balas, banyak kunjungan dari sobat-sobat yang belum bisa dibalas plus sudah lama gak ada post yang baru di blog ini.

Sedikit kaget dan gak percaya melihat perkembangan blog yang baru berumur beberapa bulan ini juga saya yang masih newbie dalam blogging ternyata sudah di anugerahi PAGERANK 2 oleh om gugel…wah jadi tambah seneng banged niy. Awalnya sih gak percaya terus langsung saja cek di prchecker.com dan gak taunya emang bener-bener blog ini sudah dapat PR2

Alhamdulillah, Semua ini berkat dukungan dari sobat-sobat semua yang sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog ini. Terima kasih banyak buat sobat-sobat blogger, terutama sobat-sobat yang sudah memberikan backlink nya pada blog ini semoga apa yang sobat lakukan akan mendapat balasan yang baik pula.

Tapi agak sedih juga niy, soalnya di awal post tahun ini harus di awali dengan kesalahan saya seperti pada post pertama tahun ini ‘ Permohonan Maaf  ‘, itu semua karena memang saya bukanlah orang yang sudah benar-benar faham dalam etika blogging. Tapi dengan kejadian ini akan saya jadikan sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan dalam blogging ria juga sebagai peringatan kepada saya mengenai etika blogging.

Terima kasih untuk sobat-sobat semua…jangan lupa komentarnya ya…
lanjuut...

Permohonan Maaf


Agak sedikit kaget karena tiba-tiba pada tanggal 25-12-2009 yang lalu saya mendapatkan sebuah email yang berisi tentang komplain atau lebih bisa disebut sebuah usul yang sangat baik dan sangat sopan dari saudara Imron Supriadi penulis di blog www.sastramusi.blogspot.com atau www.sastrawongkito.blogspot.com., mengenai posting di blog ini yang berjudul ‘ Ketika Iblis Membentangkan Sajadah ’ yang ternyata adalah sebuah cerpen beliau yang ditulis di blognya.

Saya jadi sangat malu terhadap beliau yang dengan sangat bijaksana mengingatkan saya akan kesalahan saya ini karena mencantumkan sumber tulisan tersebut adalah http://www.bengkelrohani.com bukan
www.sastramusi.blogspot.com atau www.sastrawongkito.blogspot.com. Ditambah beliau juga menyarankan kepada saya untuk memposting artikel itu secara utuh.

Maklum saya mendapatkan artikel tersebut dari komunitas Kas*** dan menyebutkan bahwa http://www.bengkelrohani.com adalah sumber tulisan itu, jadi saya tidak cek langsung ke web http://www.bengkelrohani.com mengenai kebenaran tersebut. Sebuah kesalahan besar yang saya lakukan terhadap hak intelektual seseorang yang dengan susah payah menulis cerpen itu.

Oleh karena itu dengan tulisan ini saya yang pemilik blog ini meminta maaf sebesar-besarnya kepada saudara Imron Supriadi serta kepada semua sobat blogger atas kesalahan yang saya perbuat ini dan tak lupa juga kepada pemilik web http://www.bengkelrohani.com karena telah mencantumkan nama web terebut.

Berikut email dari saudara Imron Supriyadi yang saya terima :


Salam,
Bung Ekie Norman Fauzi, saya Imron Supriyadi penulis Cerpen "KETIKA
IBLISMEMBENTANGKAN SAJADAH" Saya mengucapkan terima kasih atas
dimuatnya tulisan saya di blog anda :
http://www.blogcatalog.com/search.frame.php?term=sajadah&id=bc2435e43fb93bd26b9e5bc3ec02eb02.
Tetapi, saya harap anda memuatnya bisa secara utuh dan juga
mencantumkan penulisnya sehingga tidak membiaskan hak intelektual. Ini
hanya saran dan usul saja, supaya beberapa tulisan lain yang dimuat di
blog anda tidak mendapat komplain dari penulis yg lain.
Demikian, terima kasih. Jika anda memerlukan tulisan saya yang lain
bisa dibuka di : www.sastramusi.blogspot.com atau
www.sastrawongkito.blogspot.com.
Trims

salam
Imron Supriyadi
Palembang
HP. 085669397762


Cerpen Imron Supriyadi

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan
hari itu Jum’at. Saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam
Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis
menjelma menjadi ratusan bentuk. Ia masuk dari segala penjuru. Masuk
lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lobang pembuangan
air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga. Masuk ke dalam
syaraf mata. Masuk ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut
jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap
sajadah.
“Hai, Blis!”, Panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik.
“Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang
saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”,
Jawab Iblis Ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci. Kalau kau mau ganggu, kau
bisa diluar nanti!”, Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”.
Kiai tercenung.
“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.
“Dengan apa?”
“Dengan sajadah!”.
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah.
Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka
akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi
keuntungan besar!”
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang
baru, Blis”.
“Bukan itu saja Kiai”.
“Lalu?”
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan
menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang
lebar-lebar”.
“Untuk apa?”
“Supaya, Saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap
kaum yang Kau pimpin, Kiai!”
“Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat.
Dengan sajadah yang lebar, maka barisan shaf akan renggang. Dan saya
ada dalam ke-renganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan
sajadah.
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus.
Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya
berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara,
satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar,
seenaknya saja membentangkan sajadahnya. Tanpa melihat kanan-kirinya.
Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika
harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang.
Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil, membentangkan saja
sajadahnya. Sehingga, sebagian sajadah yang lebar, tertutupi
sepertiganya. Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?”
Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah
yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”.
Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat
sunah. Kiai akan membuktikan apa yang dikatakan Iblis.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun
dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan
sajadahnya, diatas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil,
kembali berada di bawahnya.


Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil,
melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya
ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat.
Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa
kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi diatas,
ketimbang menerima dibawah. Diatas sajadah, orang sudah berebut
kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia
akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah
sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar,
diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat, harus
lebih diatas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah
kelas bawah, yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari
orang yang berkuasa. Diatas sajadah, Iblis telah mengajari orang
selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal ‘adziiiim”, Ujar Kiai pelan.
**
Ba’da Subuh. Orang-orang sudah beranjak dari Masjid. Mereka menuju ke
rumahnya masing-masing. Dan beberapa menit, atau beberapa jam
kemudian, masing-masing orang sudah disibukkan oleh pekerjaan
keseharian. Apalagi kalau bukan untuk mempertahankan hidup. Masjid
menjadi lengang dari jamaah. Sementara, Iblis tetap duduk bersimpuh di
depan mihrab. Ia begitu khusyuk. Seolah, Iblis sedang bertaqorrub
kepada Tuhan. Dalam keheningan, isak tangis Iblis terdengar samar.
Sesekali, Iblis menyeka air matanya yang ber-urai.
Tak lama kemudian, Kiai datang. Iblis tak menghiraukan kedatangan
Kiai. Sesaat, ia memperhatikan Iblis itu. Tetapi kemudian, Kiai
mengalihkan pandangannya ke hadapan sajadah, dan melakukan sholat
sunnah.
Usai sholat, Kiai kembali memperhatikan gerak-gerik Iblis, yang masih
tetap khusyuk. Dan tidak berapa lama, Iblis mengusap mukanya dengan
kedua telapak tangannya. Ia baru selesai melakukan ritual ke-agamaan.
Matanya masih sembab. Karena sejak pagi tadi, Iblis itu menangis.
“Blis, Aku ini heran”, Kata Kiai setelah duduk di sebelah Iblis.
“Kenapa, Kiai?”
“Kau ini aneh. Kau kan mahluk yang diusir dari Sorga oleh Tuhan.
Tetapi, hari ini, Kau menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan”.
Mata Iblis berbinar. Ia merasa berhasil menarik perhatian Kiai.
“Saya hanya berusaha, Kiai. Siapa tahu, dengan tangisan ini, saya dan
kawan-kawan bisa mendapat pengampunan”.
“Tetapi, bagaimana bisa Kau menangis, sementara, selama ini Kau sudah
menanam kebencian terhadap Tuhan?”
“Ah, Kiai bisa saja. Tangisan ini kan konsekuensi dari pangakuan dosa saya”.
Kiai tercenung sesaat.
“Tapi, Blis. Selama ini, saya tidak pernah bisa menangis dalam beribadah?”
“Ya, mungkin, anda belum khsusyuk”.
Kiai tersentak.
Selama ini, orang desa selalu meng-elu-elukan beribadahnya Kiai.
Tetapi, hari itu, Kiai dikatakan oleh Iblis, Kiai tidak khusyuk
beribadah. Ini pukulan berat bagi Kiai. Tetapi, sekalipun dadanya
sesak, Kiai tetap mencoba bijak.
“Kalau boleh tahu, kenapa kau bisa menangis?”, Kata Kiai mengatur emosi.
“Ya, karena saya pernah melakukan dosa”, Jawab Iblis enteng.
“Dosa yang bagaimana?”
“Dosa apa saja. Bisa membunuh, minum-minuman keras, atau juga berzina”.
Kiai kembali tersentak.
Sebab, seumur hidup-nya, Kiai ini belum pernah melakukan dosa yang
disebut Iblis.
“Apakah, kalau saya belum pernah melakukan dosa yang kau sebut tadi,
kemudian, saya tidak bisa menangis setiap sehabis sholat?”
“Wah, ya jelas. Kalau sudah melakukan dosa, kan ada penyesalan. Nah,
baru kemudian, Kiai bisa menangis pada saat beribadah atau setiap
sehabis sholat”, Kata Iblis mulai membuat jebakan.
“Tapi, saya tidak berani berzina. Itu larangan Tuhan. Itu dosa besar?”
“Membunuh!”, Iblis memberi alternatif.
“Wah, apalagi membunuh! Saya ini penakut!”
“Ya, kalau begitu, minum-minuman keras saja. Ini yang paling ringan”.
Kiai tercenung lagi.
“Bagaimana? kalau Kiai setuju, nanti malam, saya akan jemput Kiai.
Saya akan tunjukkan bagaimana, Kiai harus mulai melakukan dosa, agar
nanti, kalau Kiai sholat, Kiai bisa menangis seperti saya”.
**
Waktu Isyak berlalu. Iblis dan Kiai keluar dari Masjid. Orang-orang
sekitar hanya menatap heran, ketika ada warga baru yang sudah demikian
akrab dengan Kiai mereka. Tapi, tak seorang pun yang berani melarang.
Mereka tidak bisa berbuat banyak. Sementara, Iblis sudah membawa Kiai
menembus malam.
Pada sebuah Kedai, agak jauh dari perdusunan, tempat Kiai tinggal.
Banyak Laki-laki dan perempuan berkumpul di situ. Kata-kata kotor, dan
suara manja perempuan kampung yang siap melayani para lelaki, makin
jelas terdengar. Bermacam botol minuman keras tersedia di Kedai itu.
“Bagaimana Kiai?”
“Aduh, gila Kau, Blis!”
“Mau minum apa?”, Tanya Iblis ketika keduanya sudah duduk.
“E…e….”
“Tidak perlu gugup Kiai. Nanti juga terbiasa!”
Dua buah botol dipesan. Iblis menatap Kiai. Kiai tampak ragu.
Sementara, Iblis sudah menuangkan minuman ke dalam gelas, yang ada di
hadapan Kiai.
“Ayolah, Kiai. Setelah minum ini, saya yakin, Kiai bisa lebih khusyuk,
dan bisa menangis, ketika nanti Kiai sholat”.
Sedikit demi sedikit, Kiai terkena rayuan Iblis. Tak berapa lama, Kiai
sudah mabuk berat. Iblis beri kode pada salah satu perempuan. Salah
satu perempuan, kemudian membawa Kiai ke satu rumah, tepat di
belakang Kedai.
Langit gelap. Mata Kiai juga menjadi gelap. Sementara, desah napas
Kiai dan perempuan itu menjadi satu gerakan erotis yang menegangkan.
Keringat bercucuran. Detak jantung keduanya berdegup kencang. Petikan
ayat, hadits dan mutiara hikmah, tak lagi mampu membentengi hasrat
Kiai. Yang ada hanya napas yang memburu.
Sepertiga malam terakhir, Kiai terbangun. Di sebelahnya, ada
perempuan tergolek tanpa busana. Kiai terkejut. Ia jadi blingsatan. Ia
coba ucapkan kata Istighfar, tetapi, lidahnya kelu. Beberapa kali,
Kiai mencoba sebut nama Tuhan. Tapi ia gagal. Ada ketakutan yang
tiba-tiba menyusup. Kiai tak sempat lagi, mengingat rentetan kejadian,
yang telah membawanya ke tempat itu.
Matanya menjadi gelap. Hatinya juga tersumbat. Sebuah pisau pemotong
buah di atas meja ia hunjamkan ke perut perempuan itu. Seketika,
jeritan dan lengkingan kesakitan perempuan itu membangunkan warga
sekitar. Warga sudah berbondong-bondong. Menggedor dan berkerumun
mengitari tempat Kiai dan perempuan itu tidur.
Pagi tiba. Kiai sudah berada di tiang gantungan. Sementara, dari
kejauhan, Iblis tertawa lebar.
“Kurang ajar kau Iblis. Kau telah menipuku!” Teriak Kiai protes.
“Kiai, tak ada gunanya kau memprotes. Kau sudah masuk dalam
jeratanku. Kau harus menjalani hukuman berat”.
“Coba Kau selamatkan aku dari tiang gantungan ini, Blis!”
Iblis tertawa. Kali ini lebih lebar.
“Kalau Kiai ingin selamat dari tiang gantungan itu, bersaksilah atas
namaku. Lalu tundukkan muka pada ku. Itu sebagai pengakuan Kiai, bahwa
Kiai telah mau dan rela menjadi hambaku!”
“Aku adalah hamba Tuhan! Aku bukan hambamu!”
“Tapi pada posisi seperti sekarang, yang dibutuhkan Kiai bukan Tuhan,
tetapi aku, yang telah membawa Kiai ke tiang gantungan. Maka segeralah
tundukkan muka dan bersaksilah atas namaku!”
Kiai terdiam. Kepalanya tertunduk.
Tetapi, iblis tetap Iblis. Ia tak pernah menyelamatkan Kiai dari
tiang gantungan. Iblis lenyap. Kembali pada alam-nya. Ia berlari
membawa kemenangan. Dan besok atau lusa, Iblis akan kembali
membentangkan sajadah**

lpm ukhuwah-iain rf-Palembang,
30 November 2001



lanjuut...
 

My Best Friend

Recent Comment